NAMA : DINI DESIHANDAYANI
No. UKG : 201900765527
Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak) Terkait Pengalaman Meningkatkan keaktifan belajar peserta didik menggunakan model pembelajaran problem based learning berbasis metode window shopping pada materi pemanfaatan SDA
|
Lokasi |
SMAN 3 Bangko Pusako Kabupaten
Rokan Hilir Provinsi Riau |
|
Lingkup Pendidikan |
Sekolah Menengah Atas (SMA) |
|
Tujuan yang ingin dicapai |
Meningkatkan keaktifan
belajar peserta didik menggunakan model pembelajaran problem based learning berbasis metode window shopping pada materi pemanfaatan SDA |
|
Penulis |
Dini Desihandayani, S.Pd. |
|
Tanggal |
1 Desember 2022 |
|
Situasi: |
a. Latar
Belakang Masalah Metode pembelajaran yang
tepat dapat membantu seorang guru dalam menciptakan suasana belajar mengajar
yang baik, sehingga terjadi interaksi dalam pembelajaran yang dapat
memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik. Sementara itu, model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Dengan demikian, penggunaan
metode dan model pembelajaran yang tepat dapat menciptkan suasana belajar
yang aktif dan memaksimalkan pencapaian hasil belajar. Berdasarkan hasil pengalaman mengajar penulis pada
mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 3 Bangko Pusako Kabupaten Rokan Hilir, diperoleh data bahwa peserta didik tidak turut aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Ini dapat dilihat ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, sebagian
besar peserta didik tidak memperhatikan penjelasan
guru dan melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan
pembelajaran, seperti bercerita dengan teman sebelahnya, melamun,
mencoret-coret kertas dan memainkan pena, pensil, penghapus ataupun benda
lain didekatnya. Saat kegiatan tanya jawab berlangsung, peserta didik
tidak memliki pertanyaan dan saat diberi pertanyaan oleh guru seputar materi
yang baru dijelaskan mereka diam dan kemudian bertanya kepada teman
sebelahnya. Diakhir pembelajaran guru memberikan soal latihan, namun hanya
beberapa peserta didik yang mengerjakan latihan tersebut dan peserta didik
yang lainya hanya mencontoh yang telah dikerjakan temannya. Peserta didik
menjawab pertanyaan guru maupun soal latihan seputar materi yang baru
dijelaskan dengan menghafal materi dan menggunakan bahasa buku tanpa melalui
proses penafsiran menggunakan bahasanya sendiri. Padahal menurut Langer (2008),
peserta didik yang menggunakan metode menghafal akan sukses melewati sebagian
besar ujian berkenaan dengan suatu materi. tetapi ketika mereka ingin memakai
materi itu dalam konteks baru, mereka akan mengalami kesulitan. Rendahnya keaktifan peserta didik dalam proses
pembelajaran merupakan masalah dalam pembelajaran karena menjadikan guru
tidak mengetahui apakah peserta didik diam karena dia telah mengerti
pelajaran yang diajarkan atau belum. Hal ini dikarenakan keaktifan merupakan
salah satu indikasi penilaian proses belajar mengajar. Pernyataan tersebut
sesuai dengan pernyataan Sudjana (2010) yang menyatakan bahwa penilaian
proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan peserta
didik dalam mengikuti proses belajar mengajar. Selain keaktifan peserta didik yang rendah, nilai
rata-rata dan ketuntasan peserta didik dalam mata pelajaran geografi juga
rendah. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa keaktifan peserta didik
di kelas mempengaruhi hasil belajarnya. Ini sejalan dengan pendapat Silberman
(2009) yang menyebutkan bahwa
ciri-ciri peserta didik yang aktif sebagai berikut : 1) Peserta didik
selalu bertanya atau meminta penjelasan dari gurunya apabila ada
materi/persoalan yang tidak dapat dipahami dan dipecahkan olehnya. 2) Peserta
didik dalam mengemukakan gagasan dan mendiskusikan gagasan orang lain dengan
gagasannya sendiri. 3) Peserta didik mengerjakan semua tugas mereka harus
menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan apa
yang telah mereka pelajari. Belajar aktif harus gesif, menyenangkan,
bersemangat dan penuh gairah. Namun kenyataannya, peserta didik belum
memiliki cir-ciri peserta didik aktif tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis sudah
mencoba berbagai cara yaitu dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi,
memberikan tugas dan memberikan nilai tambahan bagi peserta didik yang bisa
menjawab pertanyaan. Guru juga berupaya meningkatkan keaktifan peserta didik
dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dan berbagai
sumber bahan ajar, namun suasana kegiatan belajar mengajar belum juga
mengalami perkembangan. Peserta didik belum telihat aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Berdasarkan masalah diatas maka guru harus mencari
solusi lain agar suasana belajar dapat aktif. Menurut Oktavianto, dkk (2017) Pembelajaran geografi di kelas
memerlukan berbagai metode, strategi, media, dan bahan belajar agar peserta
didik mampu memanfaatkan ilmu yang didapat terhadap kehidupan nyata. Oleh
karena itu maka penulis memilih metode dan model pembelajaran yang sesuai
dengan permasalahan yang terdapat pada lokasi penulisan. Berdasarkan
beberapa referensi, maka penulis memilih model pembelajaran Problem Based Learning berbasis
metode window shopping untuk meningkatkan
keaktifan belajar peserta didik. b.
mengapa praktik ini penting untuk dibagikan Praktik baik ini perlu dibagikan agar para pendidik
termotivasi untuk bermigrasi dari model pembelajaran yang monoton menuju
pembelajaran inovatif yang diharapkan pada era kurikulum 2013 maupun
kurikulum merdeka baik dengan model
pembelajaran Discovery/Inquiry
Learning, model
Problem-based Learning (PBL), maupun model Project based Learning (PJBL). Sehingga kedepannya peserta didik dapat
mengembangkan segala bakatnya dengan nyaman dan sesuai perkembangan zaman. c.
apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam
praktik ini Peran dan tanggung jawab saya dalam praktik ini adalah sebagai peneliti dalam mengidentifikasi permasalahan yang terjadi selama proses belajar mengajar di kelas dan mencari solusi dari permasalahan tersebut. Setelah meneliti, saya menemukan solusi dengan memilih model pembelajaran yang inovatif yang sesuai dengan karakter materi pembelajaran yaitu penerapan model pembelajaran problem based learning berbasis window shopping pada materi pemanfaatan SDA di kelas XI IPA 3. Saya juga bertanggung jawab untuk melaksanakan metode dan model pembelajaran yang inovatif tersebut di sekolah tempat saya bertugas sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. |
|
Tantangan : |
Tantangan dalam pelaksanaan aksi ini diantaranya : a.
Peneliti
yang masih belum begitu mengenal kurikulum merdeka sehingga dibutuhkan waktu
lebih untuk memahami tiap sintak dalam pembelajaran. b.
Penyediaan
projector dalam menunjuang kegiatan
pembelajaran c.
Spesifikasi
laptop yang tidak terlalu tinggi sehingga dalam proses editing video sedikit kesulitan d.
Penyesuaian
jam mengajar dengan jadwal PPL yang sering berbenturan dengan kegiatan
sekolah dan persiapan PAS. e.
Pengambilan
video menggunakan handphone sehingga
hasilnya tidak terlalu jernih. f. Penulis hanya menggunakan audio bawaan video sehingga beberapa part terdengar noise terutama saat hujan dan angin. Warga sekolah yang
terlibat dalam aksi ini yaitu : a.
Peserta
didik (subjek dalam kegiatan pembelajaran) b.
Indah
Anisa Damanik (juru kamera) c.
Herliyanti,
S.Pd. (koordinator PPL di sekolah) |
|
Aksi : |
Strategi yang digunakan : 1)
Menyusun perangkat
pembelajaran yang terdiri dari RPP, LKPD, Media, Asesmen dan Bahan Ajar
dalam 2 pertemuan tentang materi pengelolaan SDA dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning berbasis window shopping untuk meningkatkan
keaktifan belajar peserta didik. 2)
Penentuan jadwal aksi PPL.
Aksi PLL dilaksanakan
pada hari Selasa tanggal
15 November
2022 mulai pukul 13.00WIB-14.30 WIB 3)
Mempersiapkan fasilitas dan
media yang digunakan yaitu: ruangan kelas XI IPA 3, Projector, laptop (Ppt,
Video) modul
ajar, Bahan ajar, LKPD, lembar penilaian keterampilan
dan sikap, lembar soal pre test dan post test, kertas karton, spidol,
solatif, loudspeaker dan perangkat lainnya yang mendukung keterlaksanaan
aksi. 4)
Pada
saat aksi melaksanakan langkah-langkah kegiatan pembelajaran: Ø Pendahuluan : dimulai salam, cek kehadiran, memberikan
apersepsi tentang kekayaan SDA Rokan Hilir Ø Kegiatan Inti: (Model pembelajaran Problem based learning berbasis metode
window shopping, diskusi, studi
literatur dan presentasi) a)
Stimulus
: Saya menyajikan video terkait kekayaan SDA kabupaten Rokan Hilir, peserta
didik mengamati dengan berpikir kritis b)
Identifikasi
masalah : setelah mengamati, saya memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk menyampaikan beberapa pertanyaan dan menggiring mereka agar
menganalisis pengelolaan SDA di kabupaten rokan hilir dalam berbagai bidang c)
Mengumpulkan data: peserta
didik mengumpulkan data pada lembar LKPD melalui studi literatur, buku dan
bahan ajar yang disajikan d)
Mengolah data : peserta
didik mengolah data dengan menjawab semua pertanyaan pada LKPD bersama kelompok e)
Verifikasi/ pembuktian :
peserta didik melakukan pembuktian dengan mempresentasikan hasil karya
didepan kelas ( guru memberikan penilaian keterampilan). f)
Generalisasi : saya bersama
peserta didik menyimpulkan dan memperjelas materi pengelolaan SDA. Ø Penutup : saya dan peserta didik melakukan refleksi
bersama, tes akhir penugasan, salam dan doa. |
|
Refleksi Hasil dan
dampak |
Dampak dari Aksi Aksi yang telah dilakukan terbukti memberi dampak terhadap perubahan
perilaku peserta didik dari keaktifan rendah menjadi lebih aktif. Ini dilihat
dari perubahan perilaku peserta didik pada indikator-indikator berikut : a) Turut serta dalam melaksanakan
tugas belajarnya, (b) Terlibat dalam pemecahan masalah, (c) Bertanya kepada peserta
didik lain/kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya, (d)
Berusaha mencari berbagai informasi yang diperoleh untuk pemecahan masalah,
(e) Melaksanakan diskusi kelompok, (f) Menilai kemampuan dirinya dan hasil
yang diperolehnya, (g) Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang
diperolehnya dalam menyelesaikan tugas/persoalan yang dihadapinya, (h)
Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan
tugas/persoalan yang dihadapinya. Maka berdasarkan keseluruhan cerita pratik baik ini, saya mendapatkan
pembelajaran agar terus berupaya melakukan perubahan demi kemajuan pendidikan
dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada murid
sehingga terwujud pelajar profil pancasila dan merdeka belajar. |
Komentar
Posting Komentar